Pages

Kamis, 30 Mei 2013

kancil Jawa

Tugas taksonomi hewan II

oleh

Adi Irawan
1117021001




Pelanduk atau Kancil Jawa









Klasifikasi ilmiah:
 Kingdom  : Animalia
 Filum         : Chordata
 Kelas          : Mammalia
 Ordo           : Artiodactyla
 Famili         : Tragulidae
 Genus          : Tragulus
 Spesies        : Tragulus javanicus

Pelanduk atau kancil jawa adalah nama umum bagi sebangsa hewan menyusui (mamalia) berkuku genap yang tergolong ke dalam marga Tragulus. Pelanduk adalah anggota keluarga Tragulidae, berkerabat dekat dengan kijang dan rusa.

Ciri-ciri dan Habitat Pelanduk jawa. 
Pelanduk mirip dengan rusa, tapi jauh lebih kecil dan tidak bertanduk. Tungkainya ramping dan punggungnya sangat melengkung. Hewan jantan mempunyai gigi taring panjang di rahang atas yang menonjol keluar bibirnya.
Panjang kepala dan badan antara 195–600 mm, dan panjang kaki belakangnya 110–150 mm. Tubuh berwarna kecokelatan, dengan garis-garis putih dan cokelat kehitaman membujur di tenggorokan dan dadanya, dan garis hitam di tengkuknya.
Kancil atau Pelanduk jawa (Tragulus javanicus) mempunyai ukuran tubuh yang kecil seukuran dengan kelinci. Panjang tubuhnya sekitar 20-25 cm. Tubuh bagian atas Kancil atau Pelanduk berwarna coklat kemerahan, sedangkan tengkuk bagian tengah biasanya lebih gelap daripada bagian tubuh lainnya. Bagian bawah berwarna putih dengan batas sedikit kecoklatan di tengah, tanda khusus di kerogkongan dan dada bagian atas berwarna coklat tua.
Raut muka Kancil atau Pelanduk (Tragulus javanicus) berwarna putih, terlihat seperti sebuah garis dari dagu sampai dada. Kancil jantan tidak mempunyai tanduk tetapi mempunyai gigi taring yang yang memanjang keluar dari mulutnya.

Makanan

Kancil atau Pelanduk jawa merupakan binatang herbivora yang menyukai rumput, daun-daunan yang berair, kecambah, buah-buahan yang jatuh di tanah, kulit pisang, papaya, ubi, dan ketela. Binatang ini mempunyai masa mengandung selama 137-155 hari dan akan menyusui bayinya hingga berusia antara 60-70 hari.
Habitat
Habitat Pelanduk atau Kancil jawa (Tragulus javanicus) di hutan primer dan sekunder yang cukup lebat atau tanah kering di dataran rendah atau kaki bukit tidak jauh dari sungai dengan vegetasi lebat. Di Indonesia Kancil dapat ditemukan di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Selain itu Pelanduk dapat dijumpai pula di Malaysia.

Populasi dan Konservasi

 Populasi Kancil atau Pelanduk jawa (Tragulus javanicus) hingga kini tidak dketahui dengan pasti. Baik oleh pemerintah Indonesia maupun oleh organisasi konservasi lingkungan hidup lainnya. Karena itu IUCN Redlist memasukkannya dalam status konservasi “Data Deficient” (DD; Informasi Kurang) yang berarti selama lima tahun terakhir belum diadakan evaluasi atau penelitian ulang.
Kancil bersama semua anggota genus Tragulus merupakan satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Spesies Lainnya
 Sedikitnya terdapat 6 spesies Kancil atau Pelanduk yang tergabung dalam genus Tragulus. Keenam spesies tersebut yaitu:
§  Tragulus javanicus   (Java Mouse-deer)
§  Tragulus kanchil      (Lesser Mouse-deer)
§  Tragulus napu         (Greater Mouse-deer)
§  Tragulus nigricans   (Philippine Mouse-deer)
§  Tragulus versicolor  (Vietnam Mouse-deer)
§  Tragulus williamsoni (Williamson’s Mouse-deer)

Sumber  :     http://alamendah.org/2010/02/11/pelanduk-kancil-populer-tapi-data-deficient/
                     http:// id.wikipedia.org/wiki/Pelanduk_jawa

                    http:// materibagja.blogspot.com/2010/12/klasifikasi-mamalia.html

Elang jawa

Tugas Mata Kuliah  Praktikum Taksonomi Hewan 2


Oleh :
Adi Irawan
1117021001











Klasifikasi ilmiah

Kingdom         :  Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Aves
Ordo                : Falconiformes
Suku                :  Accipitridae
Marga              :  Nisaetus
Species            :  Nisaetus bartelsi

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia.

Identifikasi

Elang Jawa atau dalam nama ilmiahnya Spizaetus bartelsi adalah salah satu spesies elang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 60cm yang habitatnya berada di pulau Jawa, Indonesia. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Sebagai salah satu satwa endemik di Pulau Jawa, spesies ini termasuk yang menghadapi risiko kepunahan karena berkurangnya habitat. Ia hidup di blok-blok hutan yang masih tersisa di daerah pegunungan.
Elang jawa (Spizaetus bartelsi) adalah satwa endemik Pulau Jawa. Keeksotikan satwa liar ini sering mengundang masyarakat untuk memindahkan elang jawa dari alam liar menjadi satwa peliharaan. Padahal, elang jawa saat ini telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi dengan kriteria genting (endangered). Ketika terbang, elang Jawa serupa dengan (Nisaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.
Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara elang brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya. Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.

Populasi

Pada saat ini populasi dari elang Jawa di habitatnya sangat sedikit di Kaliurang, Sleman, saat ini hanya tinggal 10 ekor. Sedang secara keseluruhan populasi elang Jawa yang merupakan binatang langka dan dilindungi ini, tidak lebih dari 100 ekor. Jumlah itu diperkirakan akan terus menyusut mengingat banyak pemburu liar dan sulitnya menangkarkan jenis burung ini.  Pengamatan  dilakukan di sejumlah tempat yang selama ini menjadi habitat elang jawa seperti di Kaliurang, dataran tinggi Dieng, pegunungan Meru Betiri di Malang Selatan, di gunung Slamet dan Alas Purwo Banyuwangi. "Dari hasil observasi dan pengamatan yang dilakukan, pemburu liar burung elang Jawa itu justru kebanyakan berasal dari luar daerah. Masyarakat sekitar yang ada di habitat elang Jawa sendiri umumnya mengerti bahwa jenis burung itu dilindungi. Tapi terhadap pemburu liar dari luar daerah, memang sulit dihentikan," kata Djuwantoko.
Sedangkan di kawasan Tangkuban Perahu dan sekitarnya saat ini mengalami penurunan, pada 1997 lalu masih terdapat tujuh pasang elang jawa namun data terakhir sementara menunjukkan bahwa populasi dari elang jawa hanya tinggal tiga pasang saja.

Makanan
Makanan Elang Jawa adalah ayam, kalong, bajing, tikus, ular dan kadal. Masih sedikit yang diketahui tentang makanannya.

Perkembangbiakan
Sarang berupa tumpukan tebal ranting-ranting pada pohon yang tinggi. Pohon tempat bersarang yang paling disukai oleh burung Elang Jawa adalah pohon Rasamala (Altingia excelsa). Telur satu butir, warnanya putih berbintik coklat kemerah-merahan. Anak burung mulai terbang sekitar umur 11 - 13 minggu setelah menetas, dan terbang dekat induknya sampai sekitar umur 1,5 tahun. Di Jawa tercatat bersarang dari bulan Mei sampai Agustus.

Sumber : http://wikipedia.org/wiki/Elang_jawa
              http://birdonthesky.blogspot.com/2008/07/sekilas-tentang-elang-jawa-spizaetus.html
              http://alamendah.org/2009/06/18/elang-jawa-yang-langka

 

Blogger news

Blogroll

About